SD1: Arthur’s Nose

Arthur’s Nose adalah buku yang dibacakan Bu Ella pagi ini. Arthur tidak suka pada hidungnya. Hidungnya terlalu panjang dan terlalu besar. Hidungnya membuat Arthur gampang ditemukan kalau main petak umpet. Hidungnya membuat Arthur selalu diejek dan diganggu teman-teman. Kalau sedang pilek, hidung Arthur jadi berwarna merah. Jelek sekali! Arthur pergi ke dokter untuk mengganti hidungnya agar lebih bagus.

20130801-094845.jpg

Setelah anak-anak kelas 1 mendengar Bu Ella bercerita dengan buku Arthur’s Nose ini, mereka mulai bertanya dan berkomentar.

“Bagaimana perasaan Arthur di gambar ini?” tanya Bu Ella.

20130801-094833.jpg

Sedih, Bu!” kata anak-anak.

“Dari mana kamu tahu kalau Arthur sedih?”

“Karena mukanya cemberut seperti itu!”

“Kalau senang, bagaimana wajahnya?”

Anak-anak tersenyum lebar pada Bu Ella.

“Selain senang dan sedih, perasaan apa lagi yang kamu tahu?” tanya Bu Ella lagi.

“Marah! Gugup! Malu! Takut! Bangga!” jawab anak-anak silih berganti.

Wah, hebat sekali perbendaharaan kata kelas 1 ini!

“Ah, tidak apa-apa hidung besar. Itu Jerapah juga lehernya panjang,” kata Kenji.

“Betul,” kata Bu Ella. “Gorila juga bulunya banyak. Tidak apa-apa.”

“Temannya Arthur ini seperti Victoria, teman Chryshantemum. Sukanya mengejek saja, ” kata Kimi.

Minggu lalu Bu Ella memang membacakan buku Crhysantemum, tentang seorang anak yang namanya unik dan cantik seperti bunga. Ternyata Kimi masih ingat, dan Kimi bisa membandingkan tokoh -tokoh dari buku yang berbeda.

Bu Ella bertanya lagi, “Kalau kita melihat ada teman yang mengejek orang lain. Apa yang harus kita lakukan?”

“Kita harus kasih tahu, Bu. Jangan mengejek nanti temanmu sedih.”

“Disuruh minta maaf!”

Bu Ella mencatat jawaban anak-anak satu per satu di papan tulis. Ada enam kalimat yang bisa dipakai anak-anak untuk menghentikan teman yang sedang mengejek orang lain.

Berikutnya, anak-anak diminta bekerja dalam kelompok 3-4 orang untuk bermain peran. Satu orang menjadi Arthur. Satu orang menjadi teman yang mengejek. Satu lagi menjadi teman yang membantu Arthur agar tidak diejek lagi.

Seru sekali lho melihat anak-anak berdiskusi dan berlatih. Karena masih kelas 1, belum semua anak terampil berdiskusi dan bernegosiasi. Acara memilih dan membagi peran cukup alot juga, ya. Ada yang hampir menangis karena tidak bisa jadi Arthur. Ada yang tidak bisa berakting sedih, jadi oleh teman-teman disarankan untuk jadi tokoh selain Arthur. Ada yang minta Bu Tia tutup mata supaya tidak melihat kelompoknya bermain peran, karena masih malu. Hahahaha…

Ketika akhirnya setiap kelompok bergiliran ke depan kelas untuk bermain peran, Bu Tia terkesan sekali. Tampaknya dua atau tiga tahun lagi audisi pertunjukan kelas akan berlangsung ketat. Banyak yang sudah bisa mengucapkan dialog dengan lancar, menunjukkan ekspresi wajah yang tepat, dan yang paling penting, berani mencoba bermain peran di depan kelas!

Senangnya hari ini, berkesempatan melihat kelas 1 membaca buku, berdiskusi, dan bermain peran. Kapan-kapan Bu Tia main lagi, ya…

Lestia Primayanti

20130801-094910.jpg

Advertisements

About blogkembang

"Sebuah sekolah dimana anak dapat tumbuh menjadi seorang yang gemar belajar dengan rasa bahagia dan antusias sepanjang hidupnya dan dimana setiap guru dapat menghadirkan perubahan"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: