Mempersiapkan Ujian Sekolah

ujian sekolah 2014Ujian seringkali menjadi momok bagi seorang pelajar di mana pun dan kapan pun. Meskipun namanya berbeda-beda – kuis, tes, ulangan, kegiatan ini selalu menimbulkan ‘sensasi’ tersendiri, baik bagi anak yang menjalani tes maupun orang-orang di lingkungan sekelilingnya (baca: orangtua).

Bagi murid-murid SD, ujian pamungkas yang mereka jalani tahun ini bernama Ujian Sekolah Berstandar Daerah yang disingkat dengan USBD. Secara bentuk, ujian ini sama seperti ujian nasional. Bedanya ada di pembuatan soal. Jika dulu soal disediakan oleh pusat dan provinsi, maka tahun ini soal-soal dikumpulkan per wilayah. Setiap sekolah diminta menyumbang soal, lalu dikompilasi sehingga menjadi soal yang utuh.

Tetap saja, ujian ini menimbulkan kegelisahan bagi murid-murid dan orangtua mereka.

dl20100706339415245293Sebagai guru yang baru tahun ini mengajar kelas 6, saya pun sempat khawatir dengan ujian sekolah. Bagaimana tidak? Standar dan bentuk soal yang berbeda dengan yang biasa kami kerjakan di sekolah tentunya mengharuskan kami menyiapkan anak-anak sebaik mungkin. Sebagai informasi, di sekolah, kami sangat jarang menggunakan soal-soal dengan bentuk pilihan ganda. Anak-anak lebih terbiasa menjawab soal-soal analisis dalam bentuk esai atau isian. Sehingga, ketika disodorkan soal pilihan ganda, biasanya mereka menjadi grogi.

 

Mengapa grogi?

Bagi mereka (dan mungkin juga anak-anak lain), soal berbentuk pilihan ganda memiliki taruhan yang tinggi. Jika salah menjawab, maka mereka sudah pasti tidak akan mendapatkan nilai. Sedangkan ketika mereka mengerjakan soal berbentuk esai, mereka masih memiliki keleluasaan untuk menjawab. Bahkan ketika salah pun, mereka masih mendapatkan nilai. Paling tidak untuk usaha mereka menjawab pertanyaan (yang seringkali disebut ‘upah menulis’ :D)

Perasaan grogi dan khawatir inilah yang seringkali berujung pada kegagalan seorang anak untuk mengerjakan soal dengan baik. Beberapa kali kita mendengar berita mengenai kegagalan seorang bintang kelas untuk lulus dari ujian. Bukan karena ia tidak mengerti soalnya, tetapi karena ia mendadak lupa, gugup, atau bahkan melakukan kesalahan-kesalahan tidak perlu (lupa menulis nama, misalnya.)

Fenomena inilah yang dalam psikologi dikenal dengan nama test anxiety atau kecemasan terhadap tes.Helping-Your-Child-Overcome-School-Test-Anxiety-MainPhoto

Kecemasan terhadap tes termasuk ke dalam kelompok state anxiety. Apa artinya? Artinya, kecemasan ini hanya terjadi di situasi tertentu dan biasanya memiliki pemicu yang jelas. Hal ini berbeda dengan trait anxiety yang menyebabkan kecemasan pada diri seseorang tanpa  penyebab yang jelas.

Apa gejala-gejala kecemasan terhadap tes? Survey kecil-kecilan yang saya lakukan di kelas menunjukkan bahwa keringat dingin, jantung berdebar kencang, sakit perut, dan pusing merupakan tanda-tanda yang paling sering dialami murid. Selain gejala fisik, test anxiety  juga menyebabkan gejala psikologis seperti gangguan memori, tidak dapat berkonsentrasi, dan kesulitan memecahkan masalah.

Apabila Anda mendapatkan anak-anak mengetuk-ngetukkan tangan atau kaki secara berulang, itu juga merupakan tanda-tanda kecemasan terhadap tes. Begitupun dengan gagap, menunda pengerjaan tugas, dan keengganan untuk melakukan tugas-tugas yang sulit.

Penyebab timbulnya kecemasan tes bermacam-macam dan berbeda-beda untuk setiap orang. Tetapi, menurut Anxiety and Depression Association of America, ada tiga penyebab utama:

  • Takut gagal.

Ketika anak merasakan tekanan yang begitu besar untuk berhasil, misalnya dalam ujian sekolah atau ujian nasional, maka hal ini bisa menjadi penghambat dalam mengerjakan ujian dengan baik. Terutama untuk anak-anak yang mengasosiasikan keberhasilan mengerjakan tes dengan harga dirinya.

Sumber lain ketakutan untuk gagal adalah ekspektasi yang tinggi dari orangtua. Ketika                 orangtua memberikan standar tertentu yang dianggap ‘tinggi’ oleh anak, hal tersebut     menjadi sumber stres bagi dirinya. Kekhawatiran akan kekecewaan orangtua terhadap      hasil tes seringkali justru membuat anak tidak dapat memberikan kinerja terbaiknya            dalam ujian.

  • Kurang persiapan.

Sistem belajar kebut semalam atau SKS seringkali dilakukan oleh anak-anak. Mempelajari materi yang sangat banyak dalam waktu singkat tentunya akan dirasa berlebihan bagi seorang anak. Akibatnya, ia akan merasa khawatir dan cemas ketika menjalani ujian.

  •  Sejarah kegagalan tes

Kegagalan berulang kali ketika mengerjakan tes dapat membentuk pikiran negatif pada diri anak, sehingga mempengaruhi kinerjanya saat tes.

Lantas, apa yang dapat kita lakukan untuk membantu anak-anak?

Di kelas, kami menggunakan sesi Kelas Kami untuk menjelaskan seluk beluk stres kepada anak. Sumber ajar yang saya gunakan berasal dari North Dakota University. Buklet ini dapat diunduh di sini. Buklet ini menurut saya cukup rinci dan mudah dipahami. Pertama-tama, anak diajak untuk memahami arti stress. Mereka jadi tahu bahwa stress tidak selamanya negatif. Ada pula stres yang positif. Stres yang positif akan mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal positif. Misalnya: stres dalam kadar tertentu dibutuhkan seseorang ketika akan ujian, agar ia terdorong untuk belajar.

Untuk mengendalikan kecemasan terhadap tes, kami mempelajari beberapa metode relaksasi atau pengalihan pikiran. Kami belajar melakukan visualisasi. Apakah itu? Visualisasi adalah metode membayangkan proses ujian yang akan dilakukan, lalu menuliskannya dalam jurnal. Ketika melakukan visualisasi, seseorang diminta membayangkan urutan kegiatan yang akan dilakukan, mulai dari memegang pensil, membuka soal, membaca isi soal, sampai mengisi lembar jawaban dan mengumpulkan jawaban. Diharapkan, dengan ‘menjalani’ ujian dalam pikirannya, seseorang akan merasa lebih santai.

Metode kedua yang kami pelajari adalah delving into sensations. Metode ini berguna ketika seseorang mengalami gejala fisik yang tidak nyaman ketika ujian. Seseorang diminta untuk merasakan ketidaknyamanan fisik yang ia alami. Misalnya ia merasa sakit perut. Ia lantas diminta untuk merasakan dan mendeskripsikan sakit yang ia alami serinci mungkin. Contohnya: perasaan perut seperti ditekan-tekan, kepala sakit di sebelah kanan, keringat di leher, dan seterusnya. Diharapkan, dengan ‘melakukan pendataan’ terhadap sensasi yang ia rasakan, pikirannya akan teralih dan menjadi lebih tenang.

Pada akhir sesi Kelas Kami, saya dan rekan saya mengamati bahwa sebagian murid-murid kami mengalami perubahan ketika menjalani tes. Mereka yang dapat melakukan visualisasi tampak lebih percaya diri dan tenang ketika mengerjakan soal-soal. Begitu pula dengan murid-murid yang sudah memahami gaya belajar yang paling sesuai untuk mereka. Tentunya kami senang dengan kemajuan ini.

Bagi Ayah dan Ibu yang ingin membantu putra-putrinya mempersiapkan diri untuk tes, ada beberapa hal yang dapat dilakukan di rumah:

  1. Tetap tenang dan dengarkan keluhan anak ketika menjalani tes.
  2. Hindari kritik berlebihan kepada anak ketika ia belum berhasil.
  3. Berikan pujian, baik ketika anak mencapai target maupun tidak.
  4. Buat dan pertahankan tujuan-tujuan yang realistis dan dapat diraih oleh anak. Berilah anak ekspektasi yang wajar.
  5. Sampaikan bahwa Anda menerima anak apa adanya, bukan mengharapkan kesempurnaan.
  6. Lakukan rutinitas yang konsisten, tapi fleksibel ketika belajar di rumah. Jika anak bosan, jangan ragu untuk melakukan kegiatan selingan. Misalnya: jalan-jalan, menonton TV, mendengarkan musik, olahraga.
  7. Dengarkan baik-baik ketika anak merasa cemas. Jangan anggap curhat yang ia sampaikan sebagai sesuatu yang konyol atau tidak penting.

Jika Anda telah melakukan langkah-langkah di atas, selamat!! Kami yakin anak Bapak dan Ibu sudah siap untuk menjalani ujian dengan tenang dan percaya diri 🙂

 

-Lucky Palupi, Guru SD 6, Sekolah Kembang

sumber foto:

http://3.bp.blogspot.com

http://i1.w.hjfile.cn

http://www.mamiverse.com

 

Advertisements

About blogkembang

"Sebuah sekolah dimana anak dapat tumbuh menjadi seorang yang gemar belajar dengan rasa bahagia dan antusias sepanjang hidupnya dan dimana setiap guru dapat menghadirkan perubahan"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: