Cerita Guru: Ibu Dwi – Tentang Sekolah Kembang

Setiap guru baru yang akan mengajar di Sekolah Kembang wajib mengikuti kegiatan ‘pemanasan’. Kegiatan tersebut berupa sit-in di seluruh kelompok kelas. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pemahaman mengenai cara belajar dan mengajar di Sekolah Kembang. Seorang guru baru juga diharapkan dapat mengenali dan melaksanakan nilai-nilai Sekolah Kembang selama masa perkenalan. Setelah periode ini, barulah biasanya ia akan menempati ‘pos’ barunya. 

Ibu Dwi adalah salah satu anggota baru Keluarga Kembang. Ia akan resmi mengajar pada tahun ajaran depan. Selama dua bulan terakhir, Ibu Dwi telah melakukan sit-in di seluruh kelas Sekolah Kembang. Ia juga mulai belajar menyusun rencana pengajaran dan membuat lembar kerja. 

Selama masa pengamatan, Ibu Dwi membuat beberapa catatan menarik yang salah satunya akan kita simak di sini.

Selamat membaca!


Ibu Dwi dan Anak-Anak KB

Ibu Dwi dan Anak-Anak KB

Apa yang diutamakan oleh Sekolah Kembang?

Sekolah Kembang mengutamakan proses belajar yang memicu anak untuk ingin mencari tahu lebih lanjut. Sekolah Kembang tidak meminta dan memberikan hal-hal yang bersifat hafalan, namun menjelaskan bagaimana suatu hal bisa terjadi. Anak-anak di Sekolah Kembang tidak dituntut hasil akhir berupa nilai, namun berupa kerangka berpikir yang sistematis.

Sekolah Kembang mengutamakan perkembangan anak sesuai karakter, kebutuhan, dan usia  mereka masing-masing. Anak-anak Kembang mungkin tidak seperti anak di sekolah lain dalam menghafal rumus-rumus atau berbagai fenomena alam. Namun, mereka akan mampu menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi secara runtut dan rinci. Misalnya, murid playgroup yang mungkin tidak hafal matahari terbit dan tenggelam pukul berapa, namun mereka mampu menghubungkan panas matahari yang mereka rasakan, silau sinarnya, dan adanya bayangan mereka dengan konsep “siang”.

Sekolah Kembang juga mengembangkan karakter anak dengan cara menerapkan perilaku sopan dan santun setiap waktu. Di sini, ditanamkan sikap untuk amat sangat saling menghargai. Tidak ada anak yang takut untuk menjawab pertanyaan karena merasa takut akan diledek teman sekelasnya ketika salah menjawab, atau takut maju bernyanyi di depan kelas karena suaranya yang tidak merdu, atau takut bertanya karena takut akan dianggap bodoh oleh gurunya.

Guru di Sekolah Kembang berperan sebagai fasilitator, bukan sebagai si-serba-tahu dan si-paling-benar, namun sebagai moderator para murid untuk berdiskusi dan mencari jawaban sendiri. Guru harus memberikan pemicu yang tepat, sehingga para murid tertarik untuk belajar lebih lanjut.

Apa perbedaan di PG, TK, dan SD?

Perbedaan yang paling mendasar adalah perbedaan tingkat kedalaman materi yang dibahas. Selain perbedaan komposisi materi, perbedaan lain adalah cara memperlakukan anak-anak yang sesuai dengan tingkatan mereka. Di PG, anak-anak diberikan materi sebatas keterampilan bantu diri dam hal-hal yang paling mendasar. Misalnya ketika mempelajari benda langit, anak-anak PG hanya dikenalkan dengan hal-hal yang mudah mereka lihat seperti bulan, bintang, dan matahari. Anak-anak di PG lebih banyak diberikan waktu untuk bermain. Guru-guru di PG berfokus melatih anak-anak ini untuk mengembangkan keterampilan bantu diri mereka seperti makan sendiri, ganti baju sendiri, dan berbagi dengan teman-temannya.

Anak-anak di TK mulai dikenalkan dengan ritual berdoa dan bernyanyi. Mereka mulai diberikan tanggung jawab petugas kelas, dan dituntut sudah mahir mengurus dirinya sendiri. Materi pelajaran di TK juga sudah mulai beragam, mulai dari Bahasa Inggris, perkenalan percakapan sederhana Bahasa Jepang, Musik, menulis, dan Matematika, meskipun hanya sebatas perkenalan. Anak-anak di TK sudah diajarkan untuk mematuhi peraturan yang mereka susun sendiri. Di TK, perkembangan motorik juga dilatih untuk persiapan belajar menulis dan membaca dengan lancar di SD nanti.

Anak-anak SD dititikberatkan pada materi-materi pelajaran. Untuk SD kelas 1-3, masih banyak perilaku belajar mereka yang dimaklumi. Seperti, belum bisa menulis dengan rapi, masih sering menanyakan pertanyaan yang sudah ditanyakan, sampai menolak mengerjakan sesuatu. Hal ini dilakukan karena kelas 1-3 merupakan masa-masa peralihan dari kehidupan yang penuh dengan bermain-main ke kehidupan untuk belajar. Anak-anak kelas 4-6 betul-betul diperdalam tingkat pemahamannya untuk persiapan ujian, dan lebih banyak diajak berdiskusi. Anak-anak di kelas 4-6 juga mulai dikenalkan tentang kehidupan remaja seperti pubertas dan bullying awareness. Anak-anak SD Kembang ditanamkan untuk mencari ilmu sebanyak mungkin dari berbagai media dan dari siapapun yang mereka kenal. Mereka dibentuk untuk tidak malu bertanya, dan tidak takut untuk salah selama belajar.

Advertisements

About blogkembang

"Sebuah sekolah dimana anak dapat tumbuh menjadi seorang yang gemar belajar dengan rasa bahagia dan antusias sepanjang hidupnya dan dimana setiap guru dapat menghadirkan perubahan"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: