DISIPLIN POSITIF

Beberapa saat yang lalu Sekolah Kembang baru saja mengadakan acara Kopi Pagi Kembang yang berlangsung di aula TK dengan tema “Disiplin Positif”. Topik ini dibawakan oleh Ibu Mirza, selaku perwakilan dari TK B.

Disiplin Positif yang dimaksud adalah penerapan disiplin yang menghasilkan pengalaman belajar bagi anak. KPK dimulai dengan memberi pertanyaan kepada para orang tua murid mengenai masalah disiplin yang umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari, lalu pemberian contoh kasus dan contoh respon yang berbeda-beda.

Ibu Mirza memulai dengan menanyakan beberapa contoh kasus dan respon orangtua menghadapi hal tersebut.

Misalnya, anak menyobek halaman buku cerita, padahal orang tua sudah memberitahu untuk berhati-hati ketika membalik halamannya. Jika respon orang tua terhadap kejadian tersebut adalah marah, maka anak menjadi takut dan tidak mendapatkan pengalaman belajar. Sedangkan jika respon orang tua lebih tenang dalam menyikapinya, seperti memberi kesempatan kepada anak untuk mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapinya dengan memperbaiki halaman buku yang robek itu dengan selotip atau lem, maka anak akan mendapatkan pengalaman belajar, dan lain kali ia akan lebih berhati-hati ketika membalik halaman buku.

Tujuan dari penerapan disiplin positif adalah mengembangkan rasa percaya diri anak. agar anak percaya bahwa dia mampu mencari jalan keluar atas permasalahannya sendiri. Hal ini akan membentuk anak menjadi pribadi yang lebih mandiri serta bertanggung jawab. Ada tiga prinsip penerapan disiplin positif yakni Respect (Menghargai anak), Rules (Penerapan aturan), dan Role Models (Menjadi contoh bagi anak), atau lebih populer dengan 3R.

Bagaimana cara efektif dalam memberikan kepercayaan kepada anak? Berilah anak tanggung jawab dan pilihan serta fokus pada tindakan positif yang dilakukan oleh anak.

Sebagai contoh penerapan aturan, Ibu Mirza mengajak para orang tua murid untuk berlatih membuat kesepakatan bersama berkaitan dengan permasalahan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kalau yang sedang menjadi isu dirumah adalah penggunaan gadget, maka susunlah kesepakatan bersama mengenai durasi penggunaan gadget. Contoh: 1) jika durasi penggunaan gadget lebih dari satu jam maka di hari selanjutnya durasinya dikurangi 30 menit, 2) jika durasi penggunaan gadget lebih dari waktu yang telah disepakati maka gadget tersebut akan langsung diambil.

14141698_10150676218319996_1837453800980223259_n

Ibu Mirza sedang menjelaskan mengenai kesepakatan bersama yang dibuat di rumahnya. Buatlah kesepakatan bersama anak sesuai dengan isu permasalahan yang ada.

14045608_10150676218219996_3802163407638547134_n

Orang tua murid sedang berdiskusi mengenai kesepakatan bersama yang akan dibuat di rumah.

14067472_10150676218184996_8759482608474208762_n

Para orang tua murid sedang berdiskusi mengenai isu-isu permasalahan yang dialami dirumah

Pembahasan selanjutnya adalah mengenai pengelolaan emosi. Kami mengajak orang tua berefleksi untuk mengetahui emosi mereka yang paling dominan dan untuk merespon pada kebutuhan siapakah emosi tersebut. Misalkan, ketika kita sedang merasa kelelahan karena di kantor banyak pekerjaan yang menumpuk, saat kita sampai di rumah anak meminta bantuan kita untuk membetulkan mainannya yang rusak. Karena merasa lelah respon yang kita berikan kepada anak kita adalah marah dengan nada tinggi. Kita perlu memahami merespon pada kebutuhan siapakah emosi marah itu? Jika kita marah dengan nada tinggi maka kita merespon pada kebutuhan diri sendiri bukan kebutuhan anak. Hal ini akan menghasilkan lingkaran negatif, anak akan meniru cara orang tua mengekspresikan emosi. Jika merespon dengan lebih tenang, berusaha membantu anak membetulkan mainannya yang rusak, maka kebutuhan anak pun menjadi terpenuhi.

img-20160919-wa0003

Sesi terakhir membahas mengenai hal yang seharusnya dilakukan ketika kesepakatan bersama tidak berjalan dengan baik, yakni pemberian konsekuensi. Apa perbedaan konsekuensi dan hukuman? Ibu Mirza memberikan beberapa contoh kasus untuk dikerjakan para orang tua murid. Orang tua murid bertugas memberikan respon terhadap kasus-kasus itu dan membedakan apakah respon tersebut berupa konsekuensi atau hukuman.

14046079_10150676218244996_5831478799725576557_n

Orang tua murid sedang berdiskusi mengenai respon dari contoh kasus yang diberikan.

14051589_10150676218149996_4735299366731154890_n

Orang tua murid sedang berdiskusi mengenai contoh kasus berkaitan dengan konsekuensi dan hukuman. Apakah respon yang diberikan berupa konsekuensi ataukah hukuman

Apakah perbedaan konsekuensi dengan hukuman? Konsekuensi biasanya berkaitan dengan tindakan yang anak lakukan dan fokus kepada pengalaman belajar anak, sedangkan hukuman bermaksud membuat anak jera tapi hanya dalam jangka waktu yang pendek, yang berarti hal itu akan berulang.

konsekuensi-for-web-300x300

Cara efektif memberikan konsekuensi

14063817_10150676218029996_5392176703888857793_n

Salah satu orang tua murid membacakan hasil diskusi mengenai konsekuensi dan hukuman

Sesi terakhir membahas mengenai hal yang harus dilakukan ketika kesepakatan bersama berjalan dengan baik, yakni pemberian dukungan dibandingkan reward/hadiah. Beberapa orang tua murid berbagi cerita mengenai contoh kasus yang pertama, yaitu mengenai durasi penggunaan gadget dan anak yang meraung-raung ketika gadget tersebut akan dikembalikan, ada yang menyarankan tindakan yang perlu dilakukan adalah mengalihkan anak dari gadget ke benda lainnya, misalnya buku. Ada yang sudah menerapkan konsekuensi yang berkaitan dengan tindakan anak tersebut, misalkan gadget tersebut akan langsung diambil dan setelah anak tenang diberi pengertian lagi mengenai kesepakatan bersama yang telah dibuat sebelumnya. Menumbuhkan disiplin diri anak atau membuat anak patuh dengan cara memberikan reward/hadiah tidak mendukung kemandirian anak. Disiplin positif diterapkan dengan cara memberikan dukungan.

hadiah-dukungan-for-web-300x300

Perbedaan Reward/Hadiah dan Dukungan

14100422_10150676218344996_7738047563910610643_n

Advertisements

About blogkembang

"Sebuah sekolah dimana anak dapat tumbuh menjadi seorang yang gemar belajar dengan rasa bahagia dan antusias sepanjang hidupnya dan dimana setiap guru dapat menghadirkan perubahan"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: