Keterampilan 4C untuk Persaingan Abad 21

Pada abad ke-21 ini, perkembangan teknologi berkembang sangat cepat; sehingga tidak hanya mempengaruhi dunia pendidikan, tetapi juga jenis-jenis profesi dan karir yang ada. Sebut saja diantaranya adalah banyak jenis-jenis profesi baru yang muncul seperti Social Media Specialist, Big Data Analyst, Food Stylist, UI/UX Designer, atau Digital Marketing. Hal ini tentu saja mempengaruhi orangtua dalam merencanakan atau menyiapkan karier bagi sang anak.

Hal tersebut diungkapkan Lestia Primayanti, Direktur Sekolah Kembang, dalam acara Kopi Pagi Kembang (KPK) #1 bertajuk “21st Century Learning Skills” yang diadakan di aula TK Kembang pada hari Jumat, 10 Agustus 2018, yang lalu.

Menurut Ibu Tia, salah satu tantangan yang ada di era modern sekarang ini adalah hadirnya mesin dan robot yang mampu menggantikan peran manusia dalam bidang pekerjaan tertentu. “Faktanya, mesin dan robot mulai menggantikan pekerjaan manusia di Amerika hingga 40 persen, di Inggris 30 persen, di Jerman 35 persen, dan Jepang 21 persen. Ini adalah salah satu dampak yang disebabkan Revolusi Industri, yang pada saat ini mulai berpusat pada penggunaan teknologi dan data,” ujarnya.

Lantas, apa yang harus disiapkan orangtua dan guru untuk memastikan anak siap dengan tantangan dunia kerja saat mereka beranjak dewasa kelak? Ibu Tia memaparkan, ada 4 keterampilan dasar yang harus dikuasai anak dalam menghadapi tantangan kerja di abad 21.

451.jpg

Communication (Komunikasi)
Di abad 21, orang yang mampu bertahan adalah mereka yang bisa berkomunikasi dengan berbagai cara, baik tertulis maupun verbal. Anak dituntut untuk memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia. “Di sekolah, anak diberikan kesempatan menggunakan kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu pada saat berdiskusi dengan teman-temannya, maupun ketika menyelesaikan masalah. Murid tidak boleh lagi anti ICT, mereka harus biasa dengan perkembangan teknologi; demikian juga guru dan orangtua,” jelas Ibu Tia.

Collaboration (Kolaborasi)

Ternyata, hidup di abad 21 tidak bergantung lagi pada persaingan. Justru, orang-orang sukses di abad ini adalah orang-orang yang bisa bekerja sama atau berkolaborasi dengan berbagai kepentingan. “Sehingga, anak harus mampu dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan; beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggung jawab; bekerja secara produktif dengan yang lain; menempatkan empati pada tempatnya; menghormati perspektif berbeda. Mereka juga menjalankan tanggung jawab pribadi dan fleksibilitas secara pribadi; menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain,” sambungnya.

Critical Thinking and Problem Solving (Berpikir Kritis)
Orang yang cerdas, sejatinya bukan yang nilainya selalu mencapai 100 atau A plus, tetapi yang mampu berpikir kritis dan menemukan solusi cerdas dari berbagai problem yang dia alami. “Anak dituntut mampu menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri. Mereka juga harus memiliki kemampuan untuk menyusun dan mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan masalah,” tegas Ibu Tia.

Creativity and Innovation (Kreativitas dan Inovasi)
“Manusia yang akan sukses di abad 21 adalah orang-orang yang kreatif dan memiliki keberagaman ide. Sehingga, dalam dimensi kreatif ini, orangtua dan gurunya pun harus kreatif. Tidak lagi hanya mengharapkan kemampuan murid pada level mendeskripsikan sesuatu, namun bagaimana mereka mampu mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain; bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda,” lanjutnya.


Dengan berlandaskan pada 4C ini, pendidikan tidak lagi dimaknai sebagai belajar untuk tahu (learning to know) seperti dalam paradigma lama; tetapi belajar untuk berpikir, (learning to think) serta belajar untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan (learning to solve problem and make decision). “Sumber belajar dan bahan ajar pun tidak lagi berasal dari buku teks semata, tetapi dari pengalaman dan realitas yang hidup dan berkembang di masyarakat,” pungkas Ibu Tia.

Artikel ini ditulis oleh Pak Pras, Guru SD6. Pernah ditayangkan pula di Kabar Kembang edisi bulan September 2018.

Advertisements

About blogkembang

"Sebuah sekolah tempat anak dapat tumbuh menjadi seorang yang gemar belajar dengan rasa bahagia dan antusias sepanjang hidupnya dan tempat setiap guru dapat menghadirkan perubahan"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: